Nilai tambahnya berpotensi mengalir kepada petani, pemasok, pengolah, dan usaha kecil.
Oleh PURWIYATNO HARIYADI
REPUBLIKA.ID; Meningkatnya biaya penyakit tidak menular menunjukkan kebutuhan mendesak Indonesia untuk berinvestasi dalam pencegahan. Republika, Jumat (9/10/2026), memberitakan bahwa pemerintah menyiapkan tambahan Rp20 triliun untuk menutup defisit BPJS Kesehatan. Rencana ini menunjukkan besarnya tekanan terhadap pembiayaan kesehatan.
Kementerian Kesehatan mencatat biaya pelayanan penyakit jantung meningkat dari Rp10,28 triliun pada 2019 menjadi Rp17,35 triliun pada 2025, sementara biaya stroke naik dari Rp2,55 triliun menjadi Rp7,21 triliun. Angka yang bersumber dari BPJS Kesehatan tersebut memperkuat urgensi promosi kesehatan dan pencegahan penyakit.
Pangan merupakan salah satu pintu masuk untuk memperkuat pencegahan. Pola makan lebih menyehatkan membantu mengendalikan faktor risiko penyakit tidak menular. Pengembangan pangan fungsional, yaitu pangan dengan manfaat kesehatan tertentu yang didukung bukti ilmiah, berpeluang memperkuat upaya tersebut sekaligus membuka sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Hari Pangan Sedunia 2026, bertema “Innovate today. Nourish tomorrow”, menjadi momentum untuk mempertemukan kedua peluang ini. Inovasi perlu hadir dalam kebijakan yang menghubungkan pengembangan industri pangan dengan kebutuhan kesehatan masyarakat. Indonesia memiliki modal untuk melakukannya: kekayaan bahan lokal, pengetahuan tradisional, dan kemampuan industri yang terus berkembang.
Baca Selengkapnya
Sumber: https://republika.id/posts/60562/hari-pangan-sedunia-2026-inovasi-kebijakan-untuk-industri-pangan-dan-kesehatan
